Thursday, February 5, 2015

PK : Mencari Tuhan

Sejak menonton Aamir Khan di film Three Idiots, aku langsung tertarik kepadanya. Maka jelas saja film baru Aamir Khan yang berjudul PK membuatku penasaran. Berhubung sedang libur dan senggang, aku pun menyaksikan film ini di laptop dan wow! Sekali lagi, WOW!
Film ini luar biasa. Kandungan nilai dan filosofi yang tersirat di dalamnya sangat inspiratif dibungkus dengan cerita yang menarik dan lucu serta ending yang tidak terduga. 

Seorang alien (Aamir Khan) yang berasal dari planet yang persis dengan bumi datang berkunjung ke bumi untuk melakukan penelitian. Setibanya di bumi, kalung yang merupakan remote control untuk memanggil kembali pesawatnya dicuri orang. Akibatnya ia tidak bisa pulang.
Alien ini sama sekali tidak mengerti bahasa dan cara kerja bumi sehingga ia disebut pheekay (PK) atau mabuk. Perlahan ia mempelajari bagaimana manusia bumi bekerja, mulai dari cara berpakaian, cara bertahan hidup dengan mengumpulkan uang, sampai yang paling membuatnya bingung yaitu permasalahan agama dan Tuhan. Kemudian ia bertemu dengan seorang reporter bernama Jaggu yang bosan dengan berita murahan yang harus ia karang. Jaggu tertarik dengan keunikan cara pikir PK dan ingin mengangkatnya dalam acara berita. 

Film ini menggambarkan manusia yang hadir di dunia dalam keadaan telanjang tanpa latar belakang budaya, agama, dan segala perbedaan. Namun setelah lahir, dunia mengajarkan berbagai perbedaan. Setiap manusia seakan harus terkotak-kotak dalam agama, suku, dan ras. Setiap manusia dipaksa untuk menaati Tuhan yang dianggap paling benar. Muncul stereotip tentang kaum-kaum tertentu dan dengan penuh kepercayaan menyatakan bahwa kaumnya yang paling benar. Manusia akhirnya rela saling menipu, memeras, bahkan membunuh hanya demi "melindungi" kaumnya, yang dianggap paling benar. 

Satu adegan yang paling berkesan di hati saya adalah ketika Tuan Tapasvi, seorang tokoh agama yang mengaku dapat berbicara dengan Tuhan, berkata, "Kamu menyerang Tuhanku dan berharap kami akan diam saja. Aku akan melindungi Tuhanku." Lalu PK menjawab, "Kamu ingin melindungi Tuhan? Kamu hanya sebagian kecil dari dunia ini, tinggal di planet yang kecil, jalanan yang kecil seperti ini ingin melindungi Tuhan yang menciptakan alam semesta yang sangat besar. Tuhan tidak butuh kamu melindunginya." Ya, terkadang manusia begitu sombong ingin melindungi "Tuhan"nya, padahal sebenarnya hanya melindungi ego semata.  

Salah sambung. Bagaikan telepon yang salah sambung, manusia sering salah dalam menafsirkan segala sesuatu, termasuk tentang Tuhan. Ada begitu banyak "Tuhan" di dunia ini. Sering manusia bertanya di dalam hari, "Tuhan" manakah yang harus ia percaya. 

"Menurutku ada dua Tuhan di dunia ini. Satu, Tuhan yang menciptakan kita semua. Kedua, Tuhan yang kau ciptakan. Tuhan yang menciptakan kita, percayalah kepada-Nya. Sedangkan Tuhan yang kau ciptakan, itulah salah sambung yang paling berbahaya."



Nilai Memang Bukan Segalanya, Tapi...

Perfectionist. Mungkin bisa dibilang begitu. Sejak dulu, nilai bagus selalu menjadi prioritas bagiku. Mamaku adalah seorang guru SD yang mengajar di tempat aku bersekolah, maka sejak dulu aku selalu terpacu untuk mendapatkan nilai bagus. Malu kalau dapat jelek, pasti ada saja celetukan "Kok dapat jelek? Kan anak guru." Padahal jujur, apa hubungannya? Memangnya kalau seorang anak guru harus sempurna di sekolah?

Karena selalu berhasil mendapatkan nilai yang tinggi, ekspektasi orang-orang di sekitarku pun sangat tinggi. Orang tuaku, saudaraku, keluarga besarku, teman-temanku, semuanya berharap aku selalu mendapatkan nilai yang bagus, menjadi anak yang cemerlang dengan berbagai prestasi, aktif dalam berbagai kegiatan, dan lain-lain. Entah sejak kapan terbentuk di benakku bahwa kemampuanku dalam akademis dan nilai yang bagus adalah kebanggaanku satu-satunya. Cuma nilai bagus itu yang bisa aku banggakan dari diriku. 

Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, fakultas yang jujur saja belum dianggap oleh masyarakat Indonesia kebanyakan, termasuk papaku. Fakultas yang sering dianggap mudah dan main-main. Oleh karena itu, rasanya wajib bagiku untuk mendapatkan nilai yang terbaik di masa perkuliahan ini. Orang tuaku tidak dapat membanggakan aku hanya dengan fakultas yang aku pilih atau universitas tempat aku berkuliah. Setidaknya nilai sempurnakulah satu-satunya yang bisa mereka banggakan. 

Pada semester satu dan dua, puji Tuhan aku berhasil mendapatkan nilai A untuk semua mata kuliah sehingga IP ku 4 selama dua semester awal itu. Namun pada semester tiga ini, kebijakan universitasku berubah. Nilai A yang awalnya bisa diperoleh hanya dengan mendapat nilai minimal 80 berubah menjadi minimal 85. Ditambah lagi dengan adanya satu mata kuliah yang sangat tidak aku minati. Alhasil ada mata kuliah yang mendapat A- dan B. Harapanku untuk mempertahankan IP 4 sirna sudah semester ini.

Jujur, hal ini cukup membuatku tertekan. Kesal. Mungkin akan banyak orang yang mengatakan aku tidak tahu diri dan tidak tahu bersyukur. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa nilaiku sudah sangat bagus. Namun, sekali lagi, nilai ini merupakan satu-satunya hal yang dapat aku banggakan. Nilai memang tidak menentukan masa depan atau pekerjaan yang gemilang di depannya, aku tahu. Namun dengan nilai yang sempurna aku bisa membuat kedua orang tuaku tersenyum dengan bangga. Mereka bisa menghemat sedikit uang karena potongan dari universitas bila mendapat IP sempurna. Ekspekasi orang-orang di sekitar terhadapku sangat tinggi, begitu juga ekspektasiku terhadap diriku sendiri. Ya, aku kecewa, sangat, sangat.

Wednesday, February 4, 2015

Me and My Broken Heart

This is for everyone with broken heart...

Well, I know that someone who broke you can't be the one who fix you. All articles I read said that. Actually, I kinda hate that fact. Deep in my heart, I hope he will come back, but I know for sure there's no chance it will happen. Logically I even know it wouldn't work. 

Some articles said that loving someone new will cure the broken heart. Hmm, can I cure my broken heart and get over without finding someone new first? Because maybe I don't need to love someone new, I just need to love myself more. You know, having someone left broke my trust, my confidence, my self-respect. It feels like I'm not worth or precious to be fought for. I surely have to do something great and prove to myself that I'm worth to love, worth to be fought for, and so important for someone out there.   

Sunday, February 1, 2015

You Can't Hurry Love

You can't hurry love
No, it'll just have to wait
For love don't come easy
But it's a game of give and take

(You Can't Hurry Love - Phil Collins)


Well, I admit that sometimes I feel lonely. I used to have a relationship for four and half years that I thought would be forever. Before sleep every night, I just scroll through my cellphone and check all my social medias, just to feel connected or chase after affection. Miserable? Maybe.

The loneliness make me want to build a new relationship with someone new, as soon as possible. Maybe just for an escape. I know that is a super bad idea. I almost done that, I told you before.

After thinking more deeply, I know I don't want to have a relationship just for fun. I want a relationship what would be forever, for real. And I know, I wouldn't have that by accepting every boy that acts nice to me.