Friday, August 28, 2015

Posesi

Langit malam ini cerah
Tidak ada awan menghalangi
Tidak ada bintang menandingi
Bulan tampil percaya diri
Menyorotkan cahaya keemasan ke bumi

Aku menengadahkan kepala
Memandangi puas keindahannya
Sampai hanyut masuk dalam pesona

Tersirat rasa ingin memiliki
Memonopoli cahayanya untukku sendiri

Namun bulan malam ini bukan milikku sendiri



Thursday, August 27, 2015

Titip Rindu pada Mentari

Ku titip rindu pada mentari
Bila malam ini bulan bersembunyi
Rindu rinduku sendiri
Sedang bulan dan jutaan bintang menemani

Ku titip rindu pada mentari
Tak sanggup ku keluar malam ini
Takut takutku sendiri
Sedang bulan bersinar percaya diri

Ku titip rindu pada mentari
Sinari ia agar senantiasa berseri
Cukup puaslah di dalam hati
Memandang berkas sinarnya di pagi hari




Friday, August 14, 2015

Don't Judge Me

Hashtag #dontjudgemechallenge belum lama ini menjadi tren di social media, khususnya Instagram. Biasanya video menampilkan seseorang yang mencorat-coret wajahnya sejelek mungkin (tompel di sana-sini, lipstik belepotan, dan sebagainya) kemudian tiba-tiba berganti menjadi sesosok yang cantik (dengan make up cetar membahana) atau tampan. Saya tergelitik untuk menanyakan lebih lanjut konsep "don't judge me" ini. 

Don't judge me - jangan hakimi saya hanya melalui penampilan fisik. Namun fenomena yang muncul adalah si pengunggah video sengaja mendandani dirinya sendiri sehingga buruk rupa pada awalnya kemudian memperlihatkan sosoknya yang cantik atau tampan agar mendulang pujian. C'mon, guys.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, konsep kecantikan yang berkembang di masyarakat saat ini sangat menakutkan. Semua orang terdorong untuk mencapai kondisi fisik ideal yang konon merupakan kecantikan sempurna. Make up tebal ditambah berbagai filter sebelum mengunggah foto ke social media, tidak terdengar asing kan?

Don't judge me challenge sebenarnya merupakan konsep yang sangat indah. Sebuah tantangan bagi manusia untuk berani menampilkan dirinya secara apa adanya tanpa takut dihakimi atau bahkan dihina. Bukan sekadar hashtag tanpa makna, tetapi menjadi trigger bagi masyarakat modern khususnya pengguna social media untuk lebih percaya diri dalam menampilkan sosok naturalnya. 


Mengapa saya begitu menggebu-gebu membahas konsep "kecantikan" yang saya nilai salah? 

Jujur, saya pribadi bukanlah orang yang percaya diri dengan kondisi fisik saya terutama kulit saya. Saya memiliki kulit wajah yang agak gelap ditambah mudah berminyak dan berjerawat. Paparan sinar matahari, debu, gejolak hormon setiap menjelang datang bulan dapat dengan mudah menimbulkan jerawat baru di wajah saya. Saya juga memiliki bekas luka jerawat di pipi saya. Singkatnya, mimpi buruk bagi seorang wanita.

"Ih kok jerawatan sih?"
"Makanya rajin cuci muka!"
"Makanya jangan suka make up-an"

Komentar-komentar kecil tersebut jujur menyinggung perasaan saya dan membuat saya sedih. Kadang ingin rasanya saya marah dan menjawab, "Gue udah rajin cuci muka! Make up juga jarang! Iya ini jerawatan. Kenapa sih jerawatan gini? AAAAARGH!" 

Tidak jarang juga saya merasa depresi setiap kali menatap pantulan wajah saya di cermin. 

Ya, mencintai diri saya apa adanya merupakan hal yang masih saya berusaha perjuangkan. Sambil mengobati jerawat saya, saya sedang berusaha untuk nyaman dengan diri saya sendiri. Sampai saat ini saya belum cukup berani untuk mengunggah foto wajah saya tanpa bedak atau sedikit filter di social media. Belum. Oleh karena itu, hashtag #dontjudgemechallenge memiliki arti yang sangat mendalam untuk saya dan saya sedang berjuang mengumpulkan keberanian saya untuk dengan percaya diri mengunggah foto wajah saya apa adanya. Saya takut dinilai jelek oleh orang lain. Saya ingin benar-benar bisa nyaman dan percaya diri dengan diri saya apa adanya dan tentunya akan lebih baik jika saya bisa mendorong orang lain untuk nyaman dengan dirinya sendiri. 

In the end, I realize it's me whom I should tell "Don't judge me". 
Bila ada seseorang yang paling jahat dalam menghakimi diri saya, ia adalah diri saya sendiri. 

Wednesday, August 12, 2015

What I Thought about The Concept of Beauty

Setiap wanita secara kodrati pasti ingin dipandang cantik. That's why, segala produk kecantikan dari dalam dan luar negeri dengan berbagai jenis bermunculan di pasaran, dari bedak tabur biasa sampai foundation yang konon mampu mengkamuflase segala pori-pori dan jerawat. Semua berlomba menawarkan kecantikan bagi para wanita korban media massa. Kecantikan, apa itu kecantikan?


Sophia Loren, aktris Italia lulusan sebuah kontes kecantikan yang memenangkan academy award pernah mengatakan,

"Beauty is how you feel inside and it reflects in your eyes. It is not something physical."


Well, she may be old now but she said that when she got an hourglass figure with a super slim waist. Kenyataannya manusia melihat segala sesuatu secara visual. Kenyataannya masyarakat memiliki definisi fisik dari kecantikan, sadar maupun tidak. Buktinya? Lihatlah kriteria menjadi seorang Sales Promotion Girls berikut ini:




SYARAT & KRITERIA SPG & USHER PRJ:

• Berwajah Indo / Oriental / Bule
• Usia dibawah 24th (Blm menikah)
• Tinggi SPG 165cm & USHER 170cm
• Cantik, Menarik, Tidak berjerawat
• Komitmen, Komunikatif & Smart



CANTIK, MENARIK, TIDAK BERJERAWAT.

Persyaratan fisik ini biasanya kemudian diikuti dengan ketentuan untuk memiliki tubuh langsing, tinggi, dan proporsional. Kenapa seorang SPG harus memenuhi persyaratan tersebut? Karena jujur saja, sekali lagi, manusia pada dasarnya melihat segala sesuatu pertama melalui visual. Menyebalkan? Ya, bagi kita sebagai wanita, tetapi tidak bagi industri dan media. 


Sejujurnya paradigma kecantikan semacam ini menjadi sebuah keuntungan besar bagi industri dan media massa. Media massa terus memasang sosok "sempurna" sebagai heroine dalam berbagai kesempatan. The bombastic annual fashion show of Victoria's Secret is the most popular example. Slim faces, abs, thigh gaps, slick hair become every girl's dream. Then, industri mengeluarkan berbagai macam produk kecantikan. Contour wajah demi mendapatkan wajah yang tirus, pil pelangsing dan aneka program diet seharga jutaan rupiah, hair mask and spa, you name it. Wanita rela mengeluarkan jutaan rupiah demi memperoleh "kesempurnaan" dan pada akhirnya tetap merasa tidak puas di dalam hatinya. 


"To all the girls that think you are fat because you're not a size zero, you're the beautiful one its society who's ugly." 


Okay, I know that Marilyn Monroe said that when she got a size zero herself and everybody acknowledge her as beauty icon. Namun, saya setuju dengan pernyataan Monroe ini. "Its society who's ugly". Paradigma masyarakat akan kecantikan, akan kesempurnaan yang harus didobrak dan dijungkirbalikkan. Karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu berefleksi dari manusia sekitarnya. Sebagai wanita, mungkin kita sering menanamkan pada diri sendiri bahwa kecantikan bukan hanya sekedar fisik, there's more to it, tetapi ada kalanya prinsip tersebut goyah dan akhirnya bersedih karena tidak mampu memenuhi kriteria "sempurna". 



Saya pribadi belum mampu menjadi wanita yang percaya diri dan nyaman sepenuhnya dengan diri saya. I'm still trying. Ada kalanya saya membenci refleksi diri di cermin, berharap memiliki wajah yang mulus berseri ala iklan sabun cuci muka, tubuh yang langsing, rambut yang licin terurai. Mencintai diri sendiri bukan hal yang mudah dan saya masih belajar melakukannya, tetapi bukan mustahil. Jika wanita satu per satu mulai mencintai dirinya, menolak terbawa arus standar kecantikan keluaran industri dan media massa, we can change the society and more importantly change ourselves.



Terakhir, saya sering bertanya dalam diri saya.

Siapakah manusia sampai memiliki hak untuk menentukan standar kesempurnaan dari manusia lainnya?

Terbiasa Gelap Malam

Hampir satu tahun
Sejak malam kelabuku
Yang kukira akhir duniaku

Malam di mana rembulan pergi tanpa menoleh
Menyisakan remang 
Kecil, berpendar, hilang
Hingga tinggal aku dan sepotong bayang-bayang

Aku bertanya pada sang waktu
Bilamana gelap ini berlalu
Dia diam, bisu

Aku menangis
Kepada sang waktu aku mengemis
Bawa aku kembali 
Aku merindu terang rembulan yang manis
Sekali lagi sang waktu tak menggubris

Gelap, masih gelap
Mata mengerjap

Gelap
Kembali aku mengerjap

Gelap
Air mata ku usap
Bukankah gelap ini menyeramkan?
Mengapa kini terlihat menawan?

Ada damai yang berhembus di ulu hatiku
Aku menoleh pada sang waktu
Tersenyum, mengangguk

Tidak perlu aku menangisi rembulan
Yang menelantarkan dalam bayang
Mata ini hanya perlu terbiasa
Terpesona akan indahnya gelap malam