Thursday, January 29, 2015

Jerat

Aku diam
Duduk di tepi dermaga
Menatap ke arah samudera
Di mana bayang perahu kecil itu terakhir kulihat
Menggenggam sepotong rindu yang telah basah 
Mendekapnya erat 

Angin malam datang membisik
Menyuruhku pulang
Namun tiada sanggup aku beranjak
Kakiku berat bagai terjerat
Malam selimut pekat

Aku diam
Duduk di tepi dermaga
Menangis akan sakitnya jerat yang mengikat
Namun siapa hendak kusalahkan
Ke dalam jerat yang kutahu menyiksa
Kubelenggu diriku secara sukarela di dalamnya

Friday, January 23, 2015

Curahan Hati Mahasiswi Ilmu Komunikasi

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah bank untuk membuka rekening baru. Kebetulan saat itu pukul 14.00 sehingga kondisi bank cukup ramai dan saya harus duduk menunggu antrian untuk berbicara dengan customer service. Di samping kiri dan kanan saya, duduklah sepasang suami istri lanjut usia yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Tiba-tiba si kakek membuka percakapan dengan saya.

"Masih kuliah, dek?" ujarnya. Saya pun mengiyakan.
"Ambil apa?"
"Ilmu Komunikasi."
"Oh. Baru dengar saya." 
Saya hanya tersenyum kemudian mendengarkan cerita si kakek tentang masa mudanya selama berkuliah. 

Tidak lama kemudian, si nenek mengajak saya berbicara. Ia menceritakan tentang kedua anaknya yang berhasil menjadi mahasiswa kedokteran di perguruan tinggi negeri serta anaknya yang sudah berhasil menjadi dokter di luar negeri. Nada suaranya mengisyaratkan rasa bangga yang amat luar biasa.

Di Indonesia, profesi dokter memang sangat dipandang. Berhasil menjadi mahasiswa kedokteran, terlebih di perguruan tinggi negeri menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa bagi setiap orang tua. Tidak heran banyak anak yang terpaksa mengikuti ambisi orang tuanya agar diterima di fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri. Pada masa SMA, saya melihat banyak teman yang mati-matian mengikuti aneka bimbingan belajar hanya demi diterima di perguruan tinggi negeri yang tidak sepenuhnya mereka minati. Ya, hanya demi gengsi. 

Sementara itu, Fakultas Ilmu Komunikasi cenderung dipandang sebelah mata. Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami bidang ilmu yang terbilang baru ini. Ketika saya mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, tidak jarang saya mendapatkan celetukan yang cenderung meremehkan. Belajar apa? Belajar ngomong? Itu mah gak usah kuliah juga bisa. Nanti jadi apa tuh kerjanya? 

Tidak banyak yang menyadari besarnya potensi Ilmu Komunikasi di masa mendatang. Globalisasi dan perkembangan teknologi menyebabkan dunia seakan menjadi satu desa kecil yang saling terhubung dan terpengaruh, sesuai teori global village. Terlebih lagi dengan diselenggarakannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Persaingan dalam dunia bisnis dan industri tidak lagi antar pengusaha lokal atau nasional, tetapi internasional. Perusahaan-perusahaan asing dapat dengan bebas masuk ke dalam negeri. Pekerja-pekerja asing akan semakin banyak merajalela di bumi pertiwi. Untuk menghadapi ini semua, penting bagi setiap orang maupun pelaku industri untuk memiliki personal branding yang kuat. 

Kualitas produk tidak lagi menjadi faktor satu-satunya penentu kesuksesan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengikat hati konsumen atau klien agar senantiasa loyal dan memiliki kedekatan emosional dengan produk ataupun perusahaan. Masyarakat semakin haus akan informasi terbaru dari seluruh belahan dunia. Media akan semakin berkembang, terutama online. Media sosial akan semakin berpengaruh dan dibutuhkan orang yang tepat untuk mengelolanya sehingga pesan yang keluar dapat berdampak positif terhadap perusahaan. Menjadi kekuatan sosial utama merupakan hal yang krusial. 

Saat itulah orang-orang yang memiliki keahlian dalam Ilmu Komunikasi akan dicari, orang yang mampu mengelola informasi secara tepat dan mengemasnya dengan menarik. Profesi-profesi seperti jurnalis, public relation, copywriter, dan lain-lain akan banyak dicari. 

Di dalam hati ini saya berharap mata masyarakat Indonesia akan lebih terbuka bahwa Fakultas Ilmu Komunikasi bukan sekadar belajar ngomong atau fakultas yang dipilih supaya bisa santai-santai yang penting mendapat gelar sarjana. Ilmu Komunikasi merupakan bidang ilmu yang akan sangat dibutuhkan dalam menghadapi dunia yang semakin modern dan global.

Thursday, January 22, 2015

When You Are Ready

Last year, I broke up with my boyfriend. He dumped me actually. It was hurt. It still hurts until now. Well, we've dated for four and half years. From the start until now, I can't even name a reason to break up with him. 

When you broke up with someone, you lost some of your confidence. You feel meaningless. You are not that worth to be keep. That was what I feel. And you know, it was lonely. 

After that, a man came into my life. He showed me caring and gave me affections. I am happy, of course. I was like he filled my emptiness, made me feel loved. I almost accept his love without thinking further. 

But then, there was a friend of mine said something that slapped me in the face. 


"Love when you are ready,not when you are lonely
Don't date someone just because you are lonely 
or feel empty
Because when you finally move on later and ready
You won't need him anymore" 

I thought about it and shit, that was true. So, I refused his love in the end. I felt like a bad guy for giving him hope all that time, but that was the best thing I could do.

Yes,
Until my heart ready..

Miss A Beat

Kamu tahu, saat kamu bernyanyi atau memainkan suatu alat musik tetapi kamu tertinggal seperempat atau setengah ketukan. Lagunya akan tetap terdengar indah dan baik-baik saja. Namun, kamu tidak dapat menikmatinya. Kamu merasa ada yang salah.

Itulah yang aku rasakan dengan hidupku belakangan ini. 

Intro: Sepenggal Diriku

Tiba-tiba saja aku merasa tertantang untuk mendefinisikan diriku sendiri. Terdengar mudah awalnya. Namun, ternyata begitu sulit menggambarkan sosok yang rekat pada raga sendiri ini. 

Aku adalah seorang perempuan yang akan menginjak usia 20 tahun pada bulan keempat tahun ini. Jika melihat sosokku sekilas, banyak yang berkata aku cukup dewasa. Mungkin karena aku sering memilih diam dan cenderung serius. Dewasa, ya, begitu pun pikirku. Tetapi ternyata pemikiran itu masih egoku semata. Sifat kekanakan tidak jarang menyeruak keluar walau malu untuk mengakuinya. Bila sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, tidak jarang mengedepankan emosi dengan rasa kesal dan marah. Kadang masih tergoda pula untuk lari dari masalah yang datang menghadang. 

Sejak kecil aku menekankan kepada diri sendiri untuk menjadi sosok yang sesuai dengan ekspektasi orang banyak. Nilai-nilai harus baik, aktif di berbagai organisasi jelas wajib, dan tidak lupa selalu bersikap manis. Terkadang muak. Sering malah. Padahal aku sendirilah yang menumpuk beban dan menjadikannya tekanan.

Hidupku berjalan dengan lancar, cenderung tanpa hambatan berarti. Sejak pendidikan dasar sampai menengah ke atas, aku memacu diriku untuk menjadi sesosok pelajar sempurna dengan nilai yang baik, aktif di berbagai organisasi, dan teman yang banyak. Tanpa sadar aku memaku standar-standar tertentu dalam diriku. Walau melelahkan dan terkadang berlawanan dengan kemauanku, aku bertahan demi memenuhi ekspektasi mereka.

Sampai saatnya aku harus memilih universitas untuk melanjutkan pendidikan. Beban yang kupikul terasa begitu berat. Sebagai siswi SMA jurusan IPA, orang-orang di sekitarku terutama orangtuaku berharap aku akan memilih jurusan yang "hebat" dan "menjanjikan". Muncul pula tekanan untuk memilih perguruan tinggi negeri yang menjadi idaman seluruh siswa SMA di Indonesia.

Aku bingung. Tidak pernah terbayang olehku harus memilih masa depanku sendiri. Aneka jurusan IPA seperti kedokteran, bioteknologi, teknik, dan sebagainya berputaran di benakku, tetapi tidak ada satu pun yang menarik perhatianku. Sempat terpikir olehku untuk memilih bioteknologi hanya demi masuk jurusan yang berbau IPA. Sampai akhirnya mama mengatakan sesuatu yang membuka pikiranku, "Coba lihat jurusan lain yang tidak berbau IPA." 

Akhirnya aku terinspirasi untuk memilih fakultas Ilmu Komunikasi, fakultas yang bahkan baru aku ketahui keberadaannya kala itu. Aku suka menulis dan mengekspresikan diriku. Aku merasa inilah duniaku walaupun jujur kala itu tidak terpikir akan ke mana pilihan fakultas ini membawaku di masa depan. Awalnya papa tidak setuju dengan pilihanku. Ia tidak mengerti fakultas apa yang kupilih ini. Namun, seiring berjalannya waktu ia mendukungku. 

Kini aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswi jurusan Public Relation, fakultas Ilmu Komunikasi. Aku mulai meniti langkahku untuk menjadi praktisi komunikasi ini. Terkadang langkahku masih gamang. Ragu dan gementar. Tetapi aku mencoba menjalani. Mencoba membuktikan bahwa aku dapat memenuhi ekspektasi mereka lewat jalan yang aku putuskan sendiri.  

Intro: Pemantapan Hati

Jujur. 
Ini bukan pertama kalinya aku menulis sebuah blog dan ini juga bukan blog pertamaku.
Sejak lama aku ingin memiliki sebuah blog yang aktif tempat menuangkan isi pikiran, ide, perasaan, dan pandangan. Namun, inilah sifat burukku. Mudah bosan. Sudah beberapa kali aku menulis blog dan semuanya terbengkalai setelah beberapa postingan. 

Kali ini, aku mencoba kembali memantapkan hati untuk lebih tekun menulis sebuah blog. God please! Semoga blog ini bisa bertahan lebih lama dan aku bisa lebih tekun menulis.