Thursday, February 5, 2015

Nilai Memang Bukan Segalanya, Tapi...

Perfectionist. Mungkin bisa dibilang begitu. Sejak dulu, nilai bagus selalu menjadi prioritas bagiku. Mamaku adalah seorang guru SD yang mengajar di tempat aku bersekolah, maka sejak dulu aku selalu terpacu untuk mendapatkan nilai bagus. Malu kalau dapat jelek, pasti ada saja celetukan "Kok dapat jelek? Kan anak guru." Padahal jujur, apa hubungannya? Memangnya kalau seorang anak guru harus sempurna di sekolah?

Karena selalu berhasil mendapatkan nilai yang tinggi, ekspektasi orang-orang di sekitarku pun sangat tinggi. Orang tuaku, saudaraku, keluarga besarku, teman-temanku, semuanya berharap aku selalu mendapatkan nilai yang bagus, menjadi anak yang cemerlang dengan berbagai prestasi, aktif dalam berbagai kegiatan, dan lain-lain. Entah sejak kapan terbentuk di benakku bahwa kemampuanku dalam akademis dan nilai yang bagus adalah kebanggaanku satu-satunya. Cuma nilai bagus itu yang bisa aku banggakan dari diriku. 

Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, fakultas yang jujur saja belum dianggap oleh masyarakat Indonesia kebanyakan, termasuk papaku. Fakultas yang sering dianggap mudah dan main-main. Oleh karena itu, rasanya wajib bagiku untuk mendapatkan nilai yang terbaik di masa perkuliahan ini. Orang tuaku tidak dapat membanggakan aku hanya dengan fakultas yang aku pilih atau universitas tempat aku berkuliah. Setidaknya nilai sempurnakulah satu-satunya yang bisa mereka banggakan. 

Pada semester satu dan dua, puji Tuhan aku berhasil mendapatkan nilai A untuk semua mata kuliah sehingga IP ku 4 selama dua semester awal itu. Namun pada semester tiga ini, kebijakan universitasku berubah. Nilai A yang awalnya bisa diperoleh hanya dengan mendapat nilai minimal 80 berubah menjadi minimal 85. Ditambah lagi dengan adanya satu mata kuliah yang sangat tidak aku minati. Alhasil ada mata kuliah yang mendapat A- dan B. Harapanku untuk mempertahankan IP 4 sirna sudah semester ini.

Jujur, hal ini cukup membuatku tertekan. Kesal. Mungkin akan banyak orang yang mengatakan aku tidak tahu diri dan tidak tahu bersyukur. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa nilaiku sudah sangat bagus. Namun, sekali lagi, nilai ini merupakan satu-satunya hal yang dapat aku banggakan. Nilai memang tidak menentukan masa depan atau pekerjaan yang gemilang di depannya, aku tahu. Namun dengan nilai yang sempurna aku bisa membuat kedua orang tuaku tersenyum dengan bangga. Mereka bisa menghemat sedikit uang karena potongan dari universitas bila mendapat IP sempurna. Ekspekasi orang-orang di sekitar terhadapku sangat tinggi, begitu juga ekspektasiku terhadap diriku sendiri. Ya, aku kecewa, sangat, sangat.

No comments:

Post a Comment