Friday, August 28, 2015

Posesi

Langit malam ini cerah
Tidak ada awan menghalangi
Tidak ada bintang menandingi
Bulan tampil percaya diri
Menyorotkan cahaya keemasan ke bumi

Aku menengadahkan kepala
Memandangi puas keindahannya
Sampai hanyut masuk dalam pesona

Tersirat rasa ingin memiliki
Memonopoli cahayanya untukku sendiri

Namun bulan malam ini bukan milikku sendiri



Thursday, August 27, 2015

Titip Rindu pada Mentari

Ku titip rindu pada mentari
Bila malam ini bulan bersembunyi
Rindu rinduku sendiri
Sedang bulan dan jutaan bintang menemani

Ku titip rindu pada mentari
Tak sanggup ku keluar malam ini
Takut takutku sendiri
Sedang bulan bersinar percaya diri

Ku titip rindu pada mentari
Sinari ia agar senantiasa berseri
Cukup puaslah di dalam hati
Memandang berkas sinarnya di pagi hari




Friday, August 14, 2015

Don't Judge Me

Hashtag #dontjudgemechallenge belum lama ini menjadi tren di social media, khususnya Instagram. Biasanya video menampilkan seseorang yang mencorat-coret wajahnya sejelek mungkin (tompel di sana-sini, lipstik belepotan, dan sebagainya) kemudian tiba-tiba berganti menjadi sesosok yang cantik (dengan make up cetar membahana) atau tampan. Saya tergelitik untuk menanyakan lebih lanjut konsep "don't judge me" ini. 

Don't judge me - jangan hakimi saya hanya melalui penampilan fisik. Namun fenomena yang muncul adalah si pengunggah video sengaja mendandani dirinya sendiri sehingga buruk rupa pada awalnya kemudian memperlihatkan sosoknya yang cantik atau tampan agar mendulang pujian. C'mon, guys.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, konsep kecantikan yang berkembang di masyarakat saat ini sangat menakutkan. Semua orang terdorong untuk mencapai kondisi fisik ideal yang konon merupakan kecantikan sempurna. Make up tebal ditambah berbagai filter sebelum mengunggah foto ke social media, tidak terdengar asing kan?

Don't judge me challenge sebenarnya merupakan konsep yang sangat indah. Sebuah tantangan bagi manusia untuk berani menampilkan dirinya secara apa adanya tanpa takut dihakimi atau bahkan dihina. Bukan sekadar hashtag tanpa makna, tetapi menjadi trigger bagi masyarakat modern khususnya pengguna social media untuk lebih percaya diri dalam menampilkan sosok naturalnya. 


Mengapa saya begitu menggebu-gebu membahas konsep "kecantikan" yang saya nilai salah? 

Jujur, saya pribadi bukanlah orang yang percaya diri dengan kondisi fisik saya terutama kulit saya. Saya memiliki kulit wajah yang agak gelap ditambah mudah berminyak dan berjerawat. Paparan sinar matahari, debu, gejolak hormon setiap menjelang datang bulan dapat dengan mudah menimbulkan jerawat baru di wajah saya. Saya juga memiliki bekas luka jerawat di pipi saya. Singkatnya, mimpi buruk bagi seorang wanita.

"Ih kok jerawatan sih?"
"Makanya rajin cuci muka!"
"Makanya jangan suka make up-an"

Komentar-komentar kecil tersebut jujur menyinggung perasaan saya dan membuat saya sedih. Kadang ingin rasanya saya marah dan menjawab, "Gue udah rajin cuci muka! Make up juga jarang! Iya ini jerawatan. Kenapa sih jerawatan gini? AAAAARGH!" 

Tidak jarang juga saya merasa depresi setiap kali menatap pantulan wajah saya di cermin. 

Ya, mencintai diri saya apa adanya merupakan hal yang masih saya berusaha perjuangkan. Sambil mengobati jerawat saya, saya sedang berusaha untuk nyaman dengan diri saya sendiri. Sampai saat ini saya belum cukup berani untuk mengunggah foto wajah saya tanpa bedak atau sedikit filter di social media. Belum. Oleh karena itu, hashtag #dontjudgemechallenge memiliki arti yang sangat mendalam untuk saya dan saya sedang berjuang mengumpulkan keberanian saya untuk dengan percaya diri mengunggah foto wajah saya apa adanya. Saya takut dinilai jelek oleh orang lain. Saya ingin benar-benar bisa nyaman dan percaya diri dengan diri saya apa adanya dan tentunya akan lebih baik jika saya bisa mendorong orang lain untuk nyaman dengan dirinya sendiri. 

In the end, I realize it's me whom I should tell "Don't judge me". 
Bila ada seseorang yang paling jahat dalam menghakimi diri saya, ia adalah diri saya sendiri. 

Wednesday, August 12, 2015

What I Thought about The Concept of Beauty

Setiap wanita secara kodrati pasti ingin dipandang cantik. That's why, segala produk kecantikan dari dalam dan luar negeri dengan berbagai jenis bermunculan di pasaran, dari bedak tabur biasa sampai foundation yang konon mampu mengkamuflase segala pori-pori dan jerawat. Semua berlomba menawarkan kecantikan bagi para wanita korban media massa. Kecantikan, apa itu kecantikan?


Sophia Loren, aktris Italia lulusan sebuah kontes kecantikan yang memenangkan academy award pernah mengatakan,

"Beauty is how you feel inside and it reflects in your eyes. It is not something physical."


Well, she may be old now but she said that when she got an hourglass figure with a super slim waist. Kenyataannya manusia melihat segala sesuatu secara visual. Kenyataannya masyarakat memiliki definisi fisik dari kecantikan, sadar maupun tidak. Buktinya? Lihatlah kriteria menjadi seorang Sales Promotion Girls berikut ini:




SYARAT & KRITERIA SPG & USHER PRJ:

• Berwajah Indo / Oriental / Bule
• Usia dibawah 24th (Blm menikah)
• Tinggi SPG 165cm & USHER 170cm
• Cantik, Menarik, Tidak berjerawat
• Komitmen, Komunikatif & Smart



CANTIK, MENARIK, TIDAK BERJERAWAT.

Persyaratan fisik ini biasanya kemudian diikuti dengan ketentuan untuk memiliki tubuh langsing, tinggi, dan proporsional. Kenapa seorang SPG harus memenuhi persyaratan tersebut? Karena jujur saja, sekali lagi, manusia pada dasarnya melihat segala sesuatu pertama melalui visual. Menyebalkan? Ya, bagi kita sebagai wanita, tetapi tidak bagi industri dan media. 


Sejujurnya paradigma kecantikan semacam ini menjadi sebuah keuntungan besar bagi industri dan media massa. Media massa terus memasang sosok "sempurna" sebagai heroine dalam berbagai kesempatan. The bombastic annual fashion show of Victoria's Secret is the most popular example. Slim faces, abs, thigh gaps, slick hair become every girl's dream. Then, industri mengeluarkan berbagai macam produk kecantikan. Contour wajah demi mendapatkan wajah yang tirus, pil pelangsing dan aneka program diet seharga jutaan rupiah, hair mask and spa, you name it. Wanita rela mengeluarkan jutaan rupiah demi memperoleh "kesempurnaan" dan pada akhirnya tetap merasa tidak puas di dalam hatinya. 


"To all the girls that think you are fat because you're not a size zero, you're the beautiful one its society who's ugly." 


Okay, I know that Marilyn Monroe said that when she got a size zero herself and everybody acknowledge her as beauty icon. Namun, saya setuju dengan pernyataan Monroe ini. "Its society who's ugly". Paradigma masyarakat akan kecantikan, akan kesempurnaan yang harus didobrak dan dijungkirbalikkan. Karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu berefleksi dari manusia sekitarnya. Sebagai wanita, mungkin kita sering menanamkan pada diri sendiri bahwa kecantikan bukan hanya sekedar fisik, there's more to it, tetapi ada kalanya prinsip tersebut goyah dan akhirnya bersedih karena tidak mampu memenuhi kriteria "sempurna". 



Saya pribadi belum mampu menjadi wanita yang percaya diri dan nyaman sepenuhnya dengan diri saya. I'm still trying. Ada kalanya saya membenci refleksi diri di cermin, berharap memiliki wajah yang mulus berseri ala iklan sabun cuci muka, tubuh yang langsing, rambut yang licin terurai. Mencintai diri sendiri bukan hal yang mudah dan saya masih belajar melakukannya, tetapi bukan mustahil. Jika wanita satu per satu mulai mencintai dirinya, menolak terbawa arus standar kecantikan keluaran industri dan media massa, we can change the society and more importantly change ourselves.



Terakhir, saya sering bertanya dalam diri saya.

Siapakah manusia sampai memiliki hak untuk menentukan standar kesempurnaan dari manusia lainnya?

Terbiasa Gelap Malam

Hampir satu tahun
Sejak malam kelabuku
Yang kukira akhir duniaku

Malam di mana rembulan pergi tanpa menoleh
Menyisakan remang 
Kecil, berpendar, hilang
Hingga tinggal aku dan sepotong bayang-bayang

Aku bertanya pada sang waktu
Bilamana gelap ini berlalu
Dia diam, bisu

Aku menangis
Kepada sang waktu aku mengemis
Bawa aku kembali 
Aku merindu terang rembulan yang manis
Sekali lagi sang waktu tak menggubris

Gelap, masih gelap
Mata mengerjap

Gelap
Kembali aku mengerjap

Gelap
Air mata ku usap
Bukankah gelap ini menyeramkan?
Mengapa kini terlihat menawan?

Ada damai yang berhembus di ulu hatiku
Aku menoleh pada sang waktu
Tersenyum, mengangguk

Tidak perlu aku menangisi rembulan
Yang menelantarkan dalam bayang
Mata ini hanya perlu terbiasa
Terpesona akan indahnya gelap malam















Thursday, February 5, 2015

PK : Mencari Tuhan

Sejak menonton Aamir Khan di film Three Idiots, aku langsung tertarik kepadanya. Maka jelas saja film baru Aamir Khan yang berjudul PK membuatku penasaran. Berhubung sedang libur dan senggang, aku pun menyaksikan film ini di laptop dan wow! Sekali lagi, WOW!
Film ini luar biasa. Kandungan nilai dan filosofi yang tersirat di dalamnya sangat inspiratif dibungkus dengan cerita yang menarik dan lucu serta ending yang tidak terduga. 

Seorang alien (Aamir Khan) yang berasal dari planet yang persis dengan bumi datang berkunjung ke bumi untuk melakukan penelitian. Setibanya di bumi, kalung yang merupakan remote control untuk memanggil kembali pesawatnya dicuri orang. Akibatnya ia tidak bisa pulang.
Alien ini sama sekali tidak mengerti bahasa dan cara kerja bumi sehingga ia disebut pheekay (PK) atau mabuk. Perlahan ia mempelajari bagaimana manusia bumi bekerja, mulai dari cara berpakaian, cara bertahan hidup dengan mengumpulkan uang, sampai yang paling membuatnya bingung yaitu permasalahan agama dan Tuhan. Kemudian ia bertemu dengan seorang reporter bernama Jaggu yang bosan dengan berita murahan yang harus ia karang. Jaggu tertarik dengan keunikan cara pikir PK dan ingin mengangkatnya dalam acara berita. 

Film ini menggambarkan manusia yang hadir di dunia dalam keadaan telanjang tanpa latar belakang budaya, agama, dan segala perbedaan. Namun setelah lahir, dunia mengajarkan berbagai perbedaan. Setiap manusia seakan harus terkotak-kotak dalam agama, suku, dan ras. Setiap manusia dipaksa untuk menaati Tuhan yang dianggap paling benar. Muncul stereotip tentang kaum-kaum tertentu dan dengan penuh kepercayaan menyatakan bahwa kaumnya yang paling benar. Manusia akhirnya rela saling menipu, memeras, bahkan membunuh hanya demi "melindungi" kaumnya, yang dianggap paling benar. 

Satu adegan yang paling berkesan di hati saya adalah ketika Tuan Tapasvi, seorang tokoh agama yang mengaku dapat berbicara dengan Tuhan, berkata, "Kamu menyerang Tuhanku dan berharap kami akan diam saja. Aku akan melindungi Tuhanku." Lalu PK menjawab, "Kamu ingin melindungi Tuhan? Kamu hanya sebagian kecil dari dunia ini, tinggal di planet yang kecil, jalanan yang kecil seperti ini ingin melindungi Tuhan yang menciptakan alam semesta yang sangat besar. Tuhan tidak butuh kamu melindunginya." Ya, terkadang manusia begitu sombong ingin melindungi "Tuhan"nya, padahal sebenarnya hanya melindungi ego semata.  

Salah sambung. Bagaikan telepon yang salah sambung, manusia sering salah dalam menafsirkan segala sesuatu, termasuk tentang Tuhan. Ada begitu banyak "Tuhan" di dunia ini. Sering manusia bertanya di dalam hari, "Tuhan" manakah yang harus ia percaya. 

"Menurutku ada dua Tuhan di dunia ini. Satu, Tuhan yang menciptakan kita semua. Kedua, Tuhan yang kau ciptakan. Tuhan yang menciptakan kita, percayalah kepada-Nya. Sedangkan Tuhan yang kau ciptakan, itulah salah sambung yang paling berbahaya."



Nilai Memang Bukan Segalanya, Tapi...

Perfectionist. Mungkin bisa dibilang begitu. Sejak dulu, nilai bagus selalu menjadi prioritas bagiku. Mamaku adalah seorang guru SD yang mengajar di tempat aku bersekolah, maka sejak dulu aku selalu terpacu untuk mendapatkan nilai bagus. Malu kalau dapat jelek, pasti ada saja celetukan "Kok dapat jelek? Kan anak guru." Padahal jujur, apa hubungannya? Memangnya kalau seorang anak guru harus sempurna di sekolah?

Karena selalu berhasil mendapatkan nilai yang tinggi, ekspektasi orang-orang di sekitarku pun sangat tinggi. Orang tuaku, saudaraku, keluarga besarku, teman-temanku, semuanya berharap aku selalu mendapatkan nilai yang bagus, menjadi anak yang cemerlang dengan berbagai prestasi, aktif dalam berbagai kegiatan, dan lain-lain. Entah sejak kapan terbentuk di benakku bahwa kemampuanku dalam akademis dan nilai yang bagus adalah kebanggaanku satu-satunya. Cuma nilai bagus itu yang bisa aku banggakan dari diriku. 

Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, fakultas yang jujur saja belum dianggap oleh masyarakat Indonesia kebanyakan, termasuk papaku. Fakultas yang sering dianggap mudah dan main-main. Oleh karena itu, rasanya wajib bagiku untuk mendapatkan nilai yang terbaik di masa perkuliahan ini. Orang tuaku tidak dapat membanggakan aku hanya dengan fakultas yang aku pilih atau universitas tempat aku berkuliah. Setidaknya nilai sempurnakulah satu-satunya yang bisa mereka banggakan. 

Pada semester satu dan dua, puji Tuhan aku berhasil mendapatkan nilai A untuk semua mata kuliah sehingga IP ku 4 selama dua semester awal itu. Namun pada semester tiga ini, kebijakan universitasku berubah. Nilai A yang awalnya bisa diperoleh hanya dengan mendapat nilai minimal 80 berubah menjadi minimal 85. Ditambah lagi dengan adanya satu mata kuliah yang sangat tidak aku minati. Alhasil ada mata kuliah yang mendapat A- dan B. Harapanku untuk mempertahankan IP 4 sirna sudah semester ini.

Jujur, hal ini cukup membuatku tertekan. Kesal. Mungkin akan banyak orang yang mengatakan aku tidak tahu diri dan tidak tahu bersyukur. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa nilaiku sudah sangat bagus. Namun, sekali lagi, nilai ini merupakan satu-satunya hal yang dapat aku banggakan. Nilai memang tidak menentukan masa depan atau pekerjaan yang gemilang di depannya, aku tahu. Namun dengan nilai yang sempurna aku bisa membuat kedua orang tuaku tersenyum dengan bangga. Mereka bisa menghemat sedikit uang karena potongan dari universitas bila mendapat IP sempurna. Ekspekasi orang-orang di sekitar terhadapku sangat tinggi, begitu juga ekspektasiku terhadap diriku sendiri. Ya, aku kecewa, sangat, sangat.

Wednesday, February 4, 2015

Me and My Broken Heart

This is for everyone with broken heart...

Well, I know that someone who broke you can't be the one who fix you. All articles I read said that. Actually, I kinda hate that fact. Deep in my heart, I hope he will come back, but I know for sure there's no chance it will happen. Logically I even know it wouldn't work. 

Some articles said that loving someone new will cure the broken heart. Hmm, can I cure my broken heart and get over without finding someone new first? Because maybe I don't need to love someone new, I just need to love myself more. You know, having someone left broke my trust, my confidence, my self-respect. It feels like I'm not worth or precious to be fought for. I surely have to do something great and prove to myself that I'm worth to love, worth to be fought for, and so important for someone out there.   

Sunday, February 1, 2015

You Can't Hurry Love

You can't hurry love
No, it'll just have to wait
For love don't come easy
But it's a game of give and take

(You Can't Hurry Love - Phil Collins)


Well, I admit that sometimes I feel lonely. I used to have a relationship for four and half years that I thought would be forever. Before sleep every night, I just scroll through my cellphone and check all my social medias, just to feel connected or chase after affection. Miserable? Maybe.

The loneliness make me want to build a new relationship with someone new, as soon as possible. Maybe just for an escape. I know that is a super bad idea. I almost done that, I told you before.

After thinking more deeply, I know I don't want to have a relationship just for fun. I want a relationship what would be forever, for real. And I know, I wouldn't have that by accepting every boy that acts nice to me.

Thursday, January 29, 2015

Jerat

Aku diam
Duduk di tepi dermaga
Menatap ke arah samudera
Di mana bayang perahu kecil itu terakhir kulihat
Menggenggam sepotong rindu yang telah basah 
Mendekapnya erat 

Angin malam datang membisik
Menyuruhku pulang
Namun tiada sanggup aku beranjak
Kakiku berat bagai terjerat
Malam selimut pekat

Aku diam
Duduk di tepi dermaga
Menangis akan sakitnya jerat yang mengikat
Namun siapa hendak kusalahkan
Ke dalam jerat yang kutahu menyiksa
Kubelenggu diriku secara sukarela di dalamnya

Friday, January 23, 2015

Curahan Hati Mahasiswi Ilmu Komunikasi

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah bank untuk membuka rekening baru. Kebetulan saat itu pukul 14.00 sehingga kondisi bank cukup ramai dan saya harus duduk menunggu antrian untuk berbicara dengan customer service. Di samping kiri dan kanan saya, duduklah sepasang suami istri lanjut usia yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Tiba-tiba si kakek membuka percakapan dengan saya.

"Masih kuliah, dek?" ujarnya. Saya pun mengiyakan.
"Ambil apa?"
"Ilmu Komunikasi."
"Oh. Baru dengar saya." 
Saya hanya tersenyum kemudian mendengarkan cerita si kakek tentang masa mudanya selama berkuliah. 

Tidak lama kemudian, si nenek mengajak saya berbicara. Ia menceritakan tentang kedua anaknya yang berhasil menjadi mahasiswa kedokteran di perguruan tinggi negeri serta anaknya yang sudah berhasil menjadi dokter di luar negeri. Nada suaranya mengisyaratkan rasa bangga yang amat luar biasa.

Di Indonesia, profesi dokter memang sangat dipandang. Berhasil menjadi mahasiswa kedokteran, terlebih di perguruan tinggi negeri menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa bagi setiap orang tua. Tidak heran banyak anak yang terpaksa mengikuti ambisi orang tuanya agar diterima di fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri. Pada masa SMA, saya melihat banyak teman yang mati-matian mengikuti aneka bimbingan belajar hanya demi diterima di perguruan tinggi negeri yang tidak sepenuhnya mereka minati. Ya, hanya demi gengsi. 

Sementara itu, Fakultas Ilmu Komunikasi cenderung dipandang sebelah mata. Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami bidang ilmu yang terbilang baru ini. Ketika saya mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, tidak jarang saya mendapatkan celetukan yang cenderung meremehkan. Belajar apa? Belajar ngomong? Itu mah gak usah kuliah juga bisa. Nanti jadi apa tuh kerjanya? 

Tidak banyak yang menyadari besarnya potensi Ilmu Komunikasi di masa mendatang. Globalisasi dan perkembangan teknologi menyebabkan dunia seakan menjadi satu desa kecil yang saling terhubung dan terpengaruh, sesuai teori global village. Terlebih lagi dengan diselenggarakannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Persaingan dalam dunia bisnis dan industri tidak lagi antar pengusaha lokal atau nasional, tetapi internasional. Perusahaan-perusahaan asing dapat dengan bebas masuk ke dalam negeri. Pekerja-pekerja asing akan semakin banyak merajalela di bumi pertiwi. Untuk menghadapi ini semua, penting bagi setiap orang maupun pelaku industri untuk memiliki personal branding yang kuat. 

Kualitas produk tidak lagi menjadi faktor satu-satunya penentu kesuksesan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengikat hati konsumen atau klien agar senantiasa loyal dan memiliki kedekatan emosional dengan produk ataupun perusahaan. Masyarakat semakin haus akan informasi terbaru dari seluruh belahan dunia. Media akan semakin berkembang, terutama online. Media sosial akan semakin berpengaruh dan dibutuhkan orang yang tepat untuk mengelolanya sehingga pesan yang keluar dapat berdampak positif terhadap perusahaan. Menjadi kekuatan sosial utama merupakan hal yang krusial. 

Saat itulah orang-orang yang memiliki keahlian dalam Ilmu Komunikasi akan dicari, orang yang mampu mengelola informasi secara tepat dan mengemasnya dengan menarik. Profesi-profesi seperti jurnalis, public relation, copywriter, dan lain-lain akan banyak dicari. 

Di dalam hati ini saya berharap mata masyarakat Indonesia akan lebih terbuka bahwa Fakultas Ilmu Komunikasi bukan sekadar belajar ngomong atau fakultas yang dipilih supaya bisa santai-santai yang penting mendapat gelar sarjana. Ilmu Komunikasi merupakan bidang ilmu yang akan sangat dibutuhkan dalam menghadapi dunia yang semakin modern dan global.

Thursday, January 22, 2015

When You Are Ready

Last year, I broke up with my boyfriend. He dumped me actually. It was hurt. It still hurts until now. Well, we've dated for four and half years. From the start until now, I can't even name a reason to break up with him. 

When you broke up with someone, you lost some of your confidence. You feel meaningless. You are not that worth to be keep. That was what I feel. And you know, it was lonely. 

After that, a man came into my life. He showed me caring and gave me affections. I am happy, of course. I was like he filled my emptiness, made me feel loved. I almost accept his love without thinking further. 

But then, there was a friend of mine said something that slapped me in the face. 


"Love when you are ready,not when you are lonely
Don't date someone just because you are lonely 
or feel empty
Because when you finally move on later and ready
You won't need him anymore" 

I thought about it and shit, that was true. So, I refused his love in the end. I felt like a bad guy for giving him hope all that time, but that was the best thing I could do.

Yes,
Until my heart ready..

Miss A Beat

Kamu tahu, saat kamu bernyanyi atau memainkan suatu alat musik tetapi kamu tertinggal seperempat atau setengah ketukan. Lagunya akan tetap terdengar indah dan baik-baik saja. Namun, kamu tidak dapat menikmatinya. Kamu merasa ada yang salah.

Itulah yang aku rasakan dengan hidupku belakangan ini. 

Intro: Sepenggal Diriku

Tiba-tiba saja aku merasa tertantang untuk mendefinisikan diriku sendiri. Terdengar mudah awalnya. Namun, ternyata begitu sulit menggambarkan sosok yang rekat pada raga sendiri ini. 

Aku adalah seorang perempuan yang akan menginjak usia 20 tahun pada bulan keempat tahun ini. Jika melihat sosokku sekilas, banyak yang berkata aku cukup dewasa. Mungkin karena aku sering memilih diam dan cenderung serius. Dewasa, ya, begitu pun pikirku. Tetapi ternyata pemikiran itu masih egoku semata. Sifat kekanakan tidak jarang menyeruak keluar walau malu untuk mengakuinya. Bila sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, tidak jarang mengedepankan emosi dengan rasa kesal dan marah. Kadang masih tergoda pula untuk lari dari masalah yang datang menghadang. 

Sejak kecil aku menekankan kepada diri sendiri untuk menjadi sosok yang sesuai dengan ekspektasi orang banyak. Nilai-nilai harus baik, aktif di berbagai organisasi jelas wajib, dan tidak lupa selalu bersikap manis. Terkadang muak. Sering malah. Padahal aku sendirilah yang menumpuk beban dan menjadikannya tekanan.

Hidupku berjalan dengan lancar, cenderung tanpa hambatan berarti. Sejak pendidikan dasar sampai menengah ke atas, aku memacu diriku untuk menjadi sesosok pelajar sempurna dengan nilai yang baik, aktif di berbagai organisasi, dan teman yang banyak. Tanpa sadar aku memaku standar-standar tertentu dalam diriku. Walau melelahkan dan terkadang berlawanan dengan kemauanku, aku bertahan demi memenuhi ekspektasi mereka.

Sampai saatnya aku harus memilih universitas untuk melanjutkan pendidikan. Beban yang kupikul terasa begitu berat. Sebagai siswi SMA jurusan IPA, orang-orang di sekitarku terutama orangtuaku berharap aku akan memilih jurusan yang "hebat" dan "menjanjikan". Muncul pula tekanan untuk memilih perguruan tinggi negeri yang menjadi idaman seluruh siswa SMA di Indonesia.

Aku bingung. Tidak pernah terbayang olehku harus memilih masa depanku sendiri. Aneka jurusan IPA seperti kedokteran, bioteknologi, teknik, dan sebagainya berputaran di benakku, tetapi tidak ada satu pun yang menarik perhatianku. Sempat terpikir olehku untuk memilih bioteknologi hanya demi masuk jurusan yang berbau IPA. Sampai akhirnya mama mengatakan sesuatu yang membuka pikiranku, "Coba lihat jurusan lain yang tidak berbau IPA." 

Akhirnya aku terinspirasi untuk memilih fakultas Ilmu Komunikasi, fakultas yang bahkan baru aku ketahui keberadaannya kala itu. Aku suka menulis dan mengekspresikan diriku. Aku merasa inilah duniaku walaupun jujur kala itu tidak terpikir akan ke mana pilihan fakultas ini membawaku di masa depan. Awalnya papa tidak setuju dengan pilihanku. Ia tidak mengerti fakultas apa yang kupilih ini. Namun, seiring berjalannya waktu ia mendukungku. 

Kini aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswi jurusan Public Relation, fakultas Ilmu Komunikasi. Aku mulai meniti langkahku untuk menjadi praktisi komunikasi ini. Terkadang langkahku masih gamang. Ragu dan gementar. Tetapi aku mencoba menjalani. Mencoba membuktikan bahwa aku dapat memenuhi ekspektasi mereka lewat jalan yang aku putuskan sendiri.  

Intro: Pemantapan Hati

Jujur. 
Ini bukan pertama kalinya aku menulis sebuah blog dan ini juga bukan blog pertamaku.
Sejak lama aku ingin memiliki sebuah blog yang aktif tempat menuangkan isi pikiran, ide, perasaan, dan pandangan. Namun, inilah sifat burukku. Mudah bosan. Sudah beberapa kali aku menulis blog dan semuanya terbengkalai setelah beberapa postingan. 

Kali ini, aku mencoba kembali memantapkan hati untuk lebih tekun menulis sebuah blog. God please! Semoga blog ini bisa bertahan lebih lama dan aku bisa lebih tekun menulis.