Friday, May 6, 2016

Me Against Acne

Kali ini aku ingin bercerita mengenai kondisi kulitku. 
Perjuangan yang sudah aku lakukan selama ini untuk melawan jerawat.

Aku pernah beberapa kali mengatakan bahwa aku memiliki banyak jerawat di daerah wajah sejak SMA. Kala itu jerawat masih dimaklumi sebagai efek samping dari pubertas. "Nanti juga hilang," katanya. Yah. Aku selalu berharap demikian.

Namun ternyata di universitas kondisi kulitku malah semakin parah. Hampir seluruh bagian wajahku sempat ditumbuhi jerawat. Ketika jerawat tersebut hilang pun bekasnya masih tertinggal. Ada pula bekas luka akibat ketidaksabaranku memencet jerawat (sungguh, jangan ditiru). Akibatnya wajahku selalu terlihat kusam dan kotor. Apalagi kulit wajahku memang berminyak. 

Aku sempat mengunjungi beberapa klinik. Dokter kulit yang pertama kusambangi ketika tahun terakhir SMA adalah Dokter Budi. Dokter Budi ini berpraktik di Apotek Pecenongan yang kebetulan tidak jauh dari tempat ibuku mengajar. Hasil pencarian di internet menunjukkan bahwa beliau cukup populer. Terbukti tempat praktiknya yang kecil itu selalu ramai. 

Setiap datang, Dokter Budi akan memecahkan jerawat yang sudah matang dan menyuntikkan cairan. Selanjutnya ia memberikan bedak kocok serta memberikan daftar makanan yang tidak boleh dikonsumsi. Sepertinya Dokter Budi ini bekerja sama dengan merk kosmetik Bless karena selalu direkomendasikan kepada pasiennya. 

Awalnya terjadi perubahan yang cukup baik di kulitku. Sampai pada tahap tertentu, aku berhenti mengunjungi Dokter Budi dan menggunakan bedak kocoknya. Hampir satu tahun berselang, kulitku kembali mengalami masalah yang lebih parah dan obat dari Dokter Budi tidak mampu lagi mengobatinya. 

Di semester 3 universitas, aku dan ibuku mendapat usulan untuk mengunjungi Erha Apothecary. Cabangnya yang banyak dan penampilannya yang profesional membuat aku percaya. Siapapun yang pernah menyambangi Erha pasti tahu bahwa obat yang diberikan kepada pasien sangat banyak. Aku diberikan toner, dua macam krim untuk pagi, dua macam krim untuk malam, sabun cuci muka, serta obat minum yang ketika ditotal mencapai tujuh ratus hingga delapan ratus ribu rupiah. Selain itu, aku diminta melakukan peeling setiap dua minggu sekali oleh dokter. Sekadar informasi, harga peeling di Erha Apothecary sekitar tiga ratus ribu. 

Hasilnya? Kulitku sangat kering. Ya, memang jerawatnya cukup berkurang dengan signifikan. Namun rasanya betul-betul tidak nyaman dan cenderung gatal karena pengelupasan kulit yang parah. Lebih gawatnya, jerawat kembali timbul dan bahkan bertambah ketika aku mulai tidak menggunakan obat-obatan dari Erha. Pada titik ini aku sadar bahwa pengobatan Erha menyebabkan ketergantungan dan aku pun memutuskan untuk berhenti. 

Beberapa bulan berselang, aku bertemu dengan kakak sepupuku dalam acara pernikahan saudara. Ia melihat kulitku yang mengelupas dan penuh jerawat. Aku pun bercerita bahwa aku baru saja lepas menggunakan produk Erha. Kakak sepupuku pun bercerita bahwa lepas menggunakan produk Erha kulitnya juga mengalami masalah serupa. Jerawat kembali bermunculan dan lebih parah. Ia merekomendasikan sebuah satu set produk dari CV Tabita. 

Ibuku pun mendorongku untuk mencoba produk CV Tabita. Dengan pembelian secara online, aku mendapatkan sabun cuci muka, toner, krim pagi, krim malam, dan krim jerawat. Tiga bulan menggunakan produk tersebut, kulitku mengalami perubahan yang cukup positif. 

Meskipun demikian aku hanya menggunakan produk Tabita sekitar lima bulan. Ketika aku menjadi panitia reuni sekolah, aku mendapatkan rekomendasi dari seorang teman ibuku untuk mencoba klinik Liz. Melalui proses pencarian di internet, klinik Liz ini pun cenderung mendapat testimoni positif. Aku pun memutuskan untuk mencobanya.

Karena rumahku di daerah Sunter, aku mengunjungi klinik Liz di daerah Kelapa Gading. Tempatnya kecil dan kurang terawat dengan baik. Sempat muncul keraguan, apalagi pegawainya tampak bermalas-malasan, tetapi aku tetap mencobanya. Kulitku pun diperiksa oleh seorang dokter. Aku diberikan sabun cuci muka, kompres jerawat, dan krim jerawat. Kompres jerawat itu konon bertujuan mengelupas kulit-kulit mati dan bekas jerawat. Aku harus mengompres wajahku selama tiga puluh menit setiap harinya. 

Tidak hanya mengaplikasikan set produk tersebut, aku juga harus melakukan facial setiap dua minggu sekali. Facial. Ya, perawatan yang sejujurnya paling ku benci. Menurutku facial sama saja dengan membayar orang untuk melakukan serangkaian penyiksaan pada diri sendiri. Jerawat bahkan komedo dipencet dengan paksa. Kemudian jerawat-jerawat tersebut disuntik. Tidak jarang aku menangis di tengah proses perawatan. 

Namun hasilnya cukup positif. Jerawatku berkurang dan bekas-bekasnya pun memudar. Kulitku juga tidak menjadi kering. Sampai saat ini aku masih melakukan perawatan di klinik Liz. Saat menulis ini, sejujurnya dahiku sedang ditumbuhi jerawat dan aku cukup stress melihat kondisi ini. 

Jika kalian mengalami masalah kulit yang serupa denganku, pasti kalian paham. Rasanya menyebalkan. Mengapa sih aku dikaruniai masalah kulit seperti ini? Mengapa orang lain tidak? Mengapa orang lain bebas mengonsumsi apa saja dengan kondisi kulit yang tetap bagus dan aku tidak? 

Ya. Saat ini aku masih tetap berusaha, mencoba berbagai pengobatan yang konon mampu menyembuhkan kondisi kulitku. Usaha yang paling sulit sesungguhnya adalah tetap menegakkan kepala dengan percaya diri walaupun ingin menangis karena tidak percaya diri.  

No comments:

Post a Comment