Hashtag #dontjudgemechallenge belum lama ini menjadi tren di social media, khususnya Instagram. Biasanya video menampilkan seseorang yang mencorat-coret wajahnya sejelek mungkin (tompel di sana-sini, lipstik belepotan, dan sebagainya) kemudian tiba-tiba berganti menjadi sesosok yang cantik (dengan make up cetar membahana) atau tampan. Saya tergelitik untuk menanyakan lebih lanjut konsep "don't judge me" ini.
Don't judge me - jangan hakimi saya hanya melalui penampilan fisik. Namun fenomena yang muncul adalah si pengunggah video sengaja mendandani dirinya sendiri sehingga buruk rupa pada awalnya kemudian memperlihatkan sosoknya yang cantik atau tampan agar mendulang pujian. C'mon, guys.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, konsep kecantikan yang berkembang di masyarakat saat ini sangat menakutkan. Semua orang terdorong untuk mencapai kondisi fisik ideal yang konon merupakan kecantikan sempurna. Make up tebal ditambah berbagai filter sebelum mengunggah foto ke social media, tidak terdengar asing kan?
Don't judge me challenge sebenarnya merupakan konsep yang sangat indah. Sebuah tantangan bagi manusia untuk berani menampilkan dirinya secara apa adanya tanpa takut dihakimi atau bahkan dihina. Bukan sekadar hashtag tanpa makna, tetapi menjadi trigger bagi masyarakat modern khususnya pengguna social media untuk lebih percaya diri dalam menampilkan sosok naturalnya.
Mengapa saya begitu menggebu-gebu membahas konsep "kecantikan" yang saya nilai salah?
Jujur, saya pribadi bukanlah orang yang percaya diri dengan kondisi fisik saya terutama kulit saya. Saya memiliki kulit wajah yang agak gelap ditambah mudah berminyak dan berjerawat. Paparan sinar matahari, debu, gejolak hormon setiap menjelang datang bulan dapat dengan mudah menimbulkan jerawat baru di wajah saya. Saya juga memiliki bekas luka jerawat di pipi saya. Singkatnya, mimpi buruk bagi seorang wanita.
"Ih kok jerawatan sih?"
"Makanya rajin cuci muka!"
"Makanya jangan suka make up-an"
Komentar-komentar kecil tersebut jujur menyinggung perasaan saya dan membuat saya sedih. Kadang ingin rasanya saya marah dan menjawab, "Gue udah rajin cuci muka! Make up juga jarang! Iya ini jerawatan. Kenapa sih jerawatan gini? AAAAARGH!"
Tidak jarang juga saya merasa depresi setiap kali menatap pantulan wajah saya di cermin.
Ya, mencintai diri saya apa adanya merupakan hal yang masih saya berusaha perjuangkan. Sambil mengobati jerawat saya, saya sedang berusaha untuk nyaman dengan diri saya sendiri. Sampai saat ini saya belum cukup berani untuk mengunggah foto wajah saya tanpa bedak atau sedikit filter di social media. Belum. Oleh karena itu, hashtag #dontjudgemechallenge memiliki arti yang sangat mendalam untuk saya dan saya sedang berjuang mengumpulkan keberanian saya untuk dengan percaya diri mengunggah foto wajah saya apa adanya. Saya takut dinilai jelek oleh orang lain. Saya ingin benar-benar bisa nyaman dan percaya diri dengan diri saya apa adanya dan tentunya akan lebih baik jika saya bisa mendorong orang lain untuk nyaman dengan dirinya sendiri.
In the end, I realize it's me whom I should tell "Don't judge me".
Bila ada seseorang yang paling jahat dalam menghakimi diri saya, ia adalah diri saya sendiri.
No comments:
Post a Comment