Setiap wanita secara kodrati pasti ingin dipandang cantik. That's why, segala produk kecantikan dari dalam dan luar negeri dengan berbagai jenis bermunculan di pasaran, dari bedak tabur biasa sampai foundation yang konon mampu mengkamuflase segala pori-pori dan jerawat. Semua berlomba menawarkan kecantikan bagi para wanita korban media massa. Kecantikan, apa itu kecantikan?
Sophia Loren, aktris Italia lulusan sebuah kontes kecantikan yang memenangkan academy award pernah mengatakan,
"Beauty is how you feel inside and it reflects in your eyes. It is not something physical."
Well, she may be old now but she said that when she got an hourglass figure with a super slim waist. Kenyataannya manusia melihat segala sesuatu secara visual. Kenyataannya masyarakat memiliki definisi fisik dari kecantikan, sadar maupun tidak. Buktinya? Lihatlah kriteria menjadi seorang Sales Promotion Girls berikut ini:
SYARAT & KRITERIA SPG & USHER PRJ:
• Berwajah Indo / Oriental / Bule
• Usia dibawah 24th (Blm menikah)
• Tinggi SPG 165cm & USHER 170cm
• Cantik, Menarik, Tidak berjerawat
• Komitmen, Komunikatif & Smart
CANTIK, MENARIK, TIDAK BERJERAWAT.
Persyaratan fisik ini biasanya kemudian diikuti dengan ketentuan untuk memiliki tubuh langsing, tinggi, dan proporsional. Kenapa seorang SPG harus memenuhi persyaratan tersebut? Karena jujur saja, sekali lagi, manusia pada dasarnya melihat segala sesuatu pertama melalui visual. Menyebalkan? Ya, bagi kita sebagai wanita, tetapi tidak bagi industri dan media.
Sejujurnya paradigma kecantikan semacam ini menjadi sebuah keuntungan besar bagi industri dan media massa. Media massa terus memasang sosok "sempurna" sebagai heroine dalam berbagai kesempatan. The bombastic annual fashion show of Victoria's Secret is the most popular example. Slim faces, abs, thigh gaps, slick hair become every girl's dream. Then, industri mengeluarkan berbagai macam produk kecantikan. Contour wajah demi mendapatkan wajah yang tirus, pil pelangsing dan aneka program diet seharga jutaan rupiah, hair mask and spa, you name it. Wanita rela mengeluarkan jutaan rupiah demi memperoleh "kesempurnaan" dan pada akhirnya tetap merasa tidak puas di dalam hatinya.
"To all the girls that think you are fat because you're not a size zero, you're the beautiful one its society who's ugly."
Okay, I know that Marilyn Monroe said that when she got a size zero herself and everybody acknowledge her as beauty icon. Namun, saya setuju dengan pernyataan Monroe ini. "Its society who's ugly". Paradigma masyarakat akan kecantikan, akan kesempurnaan yang harus didobrak dan dijungkirbalikkan. Karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu berefleksi dari manusia sekitarnya. Sebagai wanita, mungkin kita sering menanamkan pada diri sendiri bahwa kecantikan bukan hanya sekedar fisik, there's more to it, tetapi ada kalanya prinsip tersebut goyah dan akhirnya bersedih karena tidak mampu memenuhi kriteria "sempurna".
Saya pribadi belum mampu menjadi wanita yang percaya diri dan nyaman sepenuhnya dengan diri saya. I'm still trying. Ada kalanya saya membenci refleksi diri di cermin, berharap memiliki wajah yang mulus berseri ala iklan sabun cuci muka, tubuh yang langsing, rambut yang licin terurai. Mencintai diri sendiri bukan hal yang mudah dan saya masih belajar melakukannya, tetapi bukan mustahil. Jika wanita satu per satu mulai mencintai dirinya, menolak terbawa arus standar kecantikan keluaran industri dan media massa, we can change the society and more importantly change ourselves.
Terakhir, saya sering bertanya dalam diri saya.
Siapakah manusia sampai memiliki hak untuk menentukan standar kesempurnaan dari manusia lainnya?
No comments:
Post a Comment