Thursday, January 22, 2015

Intro: Sepenggal Diriku

Tiba-tiba saja aku merasa tertantang untuk mendefinisikan diriku sendiri. Terdengar mudah awalnya. Namun, ternyata begitu sulit menggambarkan sosok yang rekat pada raga sendiri ini. 

Aku adalah seorang perempuan yang akan menginjak usia 20 tahun pada bulan keempat tahun ini. Jika melihat sosokku sekilas, banyak yang berkata aku cukup dewasa. Mungkin karena aku sering memilih diam dan cenderung serius. Dewasa, ya, begitu pun pikirku. Tetapi ternyata pemikiran itu masih egoku semata. Sifat kekanakan tidak jarang menyeruak keluar walau malu untuk mengakuinya. Bila sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, tidak jarang mengedepankan emosi dengan rasa kesal dan marah. Kadang masih tergoda pula untuk lari dari masalah yang datang menghadang. 

Sejak kecil aku menekankan kepada diri sendiri untuk menjadi sosok yang sesuai dengan ekspektasi orang banyak. Nilai-nilai harus baik, aktif di berbagai organisasi jelas wajib, dan tidak lupa selalu bersikap manis. Terkadang muak. Sering malah. Padahal aku sendirilah yang menumpuk beban dan menjadikannya tekanan.

Hidupku berjalan dengan lancar, cenderung tanpa hambatan berarti. Sejak pendidikan dasar sampai menengah ke atas, aku memacu diriku untuk menjadi sesosok pelajar sempurna dengan nilai yang baik, aktif di berbagai organisasi, dan teman yang banyak. Tanpa sadar aku memaku standar-standar tertentu dalam diriku. Walau melelahkan dan terkadang berlawanan dengan kemauanku, aku bertahan demi memenuhi ekspektasi mereka.

Sampai saatnya aku harus memilih universitas untuk melanjutkan pendidikan. Beban yang kupikul terasa begitu berat. Sebagai siswi SMA jurusan IPA, orang-orang di sekitarku terutama orangtuaku berharap aku akan memilih jurusan yang "hebat" dan "menjanjikan". Muncul pula tekanan untuk memilih perguruan tinggi negeri yang menjadi idaman seluruh siswa SMA di Indonesia.

Aku bingung. Tidak pernah terbayang olehku harus memilih masa depanku sendiri. Aneka jurusan IPA seperti kedokteran, bioteknologi, teknik, dan sebagainya berputaran di benakku, tetapi tidak ada satu pun yang menarik perhatianku. Sempat terpikir olehku untuk memilih bioteknologi hanya demi masuk jurusan yang berbau IPA. Sampai akhirnya mama mengatakan sesuatu yang membuka pikiranku, "Coba lihat jurusan lain yang tidak berbau IPA." 

Akhirnya aku terinspirasi untuk memilih fakultas Ilmu Komunikasi, fakultas yang bahkan baru aku ketahui keberadaannya kala itu. Aku suka menulis dan mengekspresikan diriku. Aku merasa inilah duniaku walaupun jujur kala itu tidak terpikir akan ke mana pilihan fakultas ini membawaku di masa depan. Awalnya papa tidak setuju dengan pilihanku. Ia tidak mengerti fakultas apa yang kupilih ini. Namun, seiring berjalannya waktu ia mendukungku. 

Kini aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswi jurusan Public Relation, fakultas Ilmu Komunikasi. Aku mulai meniti langkahku untuk menjadi praktisi komunikasi ini. Terkadang langkahku masih gamang. Ragu dan gementar. Tetapi aku mencoba menjalani. Mencoba membuktikan bahwa aku dapat memenuhi ekspektasi mereka lewat jalan yang aku putuskan sendiri.  

No comments:

Post a Comment