Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah bank untuk membuka rekening baru. Kebetulan saat itu pukul 14.00 sehingga kondisi bank cukup ramai dan saya harus duduk menunggu antrian untuk berbicara dengan customer service. Di samping kiri dan kanan saya, duduklah sepasang suami istri lanjut usia yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Tiba-tiba si kakek membuka percakapan dengan saya.
"Masih kuliah, dek?" ujarnya. Saya pun mengiyakan.
"Ambil apa?"
"Ilmu Komunikasi."
"Oh. Baru dengar saya."
Saya hanya tersenyum kemudian mendengarkan cerita si kakek tentang masa mudanya selama berkuliah.
Tidak lama kemudian, si nenek mengajak saya berbicara. Ia menceritakan tentang kedua anaknya yang berhasil menjadi mahasiswa kedokteran di perguruan tinggi negeri serta anaknya yang sudah berhasil menjadi dokter di luar negeri. Nada suaranya mengisyaratkan rasa bangga yang amat luar biasa.
Di Indonesia, profesi dokter memang sangat dipandang. Berhasil menjadi mahasiswa kedokteran, terlebih di perguruan tinggi negeri menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa bagi setiap orang tua. Tidak heran banyak anak yang terpaksa mengikuti ambisi orang tuanya agar diterima di fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri. Pada masa SMA, saya melihat banyak teman yang mati-matian mengikuti aneka bimbingan belajar hanya demi diterima di perguruan tinggi negeri yang tidak sepenuhnya mereka minati. Ya, hanya demi gengsi.
Sementara itu, Fakultas Ilmu Komunikasi cenderung dipandang sebelah mata. Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memahami bidang ilmu yang terbilang baru ini. Ketika saya mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, tidak jarang saya mendapatkan celetukan yang cenderung meremehkan. Belajar apa? Belajar ngomong? Itu mah gak usah kuliah juga bisa. Nanti jadi apa tuh kerjanya?
Tidak banyak yang menyadari besarnya potensi Ilmu Komunikasi di masa mendatang. Globalisasi dan perkembangan teknologi menyebabkan dunia seakan menjadi satu desa kecil yang saling terhubung dan terpengaruh, sesuai teori global village. Terlebih lagi dengan diselenggarakannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Persaingan dalam dunia bisnis dan industri tidak lagi antar pengusaha lokal atau nasional, tetapi internasional. Perusahaan-perusahaan asing dapat dengan bebas masuk ke dalam negeri. Pekerja-pekerja asing akan semakin banyak merajalela di bumi pertiwi. Untuk menghadapi ini semua, penting bagi setiap orang maupun pelaku industri untuk memiliki personal branding yang kuat.
Kualitas produk tidak lagi menjadi faktor satu-satunya penentu kesuksesan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengikat hati konsumen atau klien agar senantiasa loyal dan memiliki kedekatan emosional dengan produk ataupun perusahaan. Masyarakat semakin haus akan informasi terbaru dari seluruh belahan dunia. Media akan semakin berkembang, terutama online. Media sosial akan semakin berpengaruh dan dibutuhkan orang yang tepat untuk mengelolanya sehingga pesan yang keluar dapat berdampak positif terhadap perusahaan. Menjadi kekuatan sosial utama merupakan hal yang krusial.
Saat itulah orang-orang yang memiliki keahlian dalam Ilmu Komunikasi akan dicari, orang yang mampu mengelola informasi secara tepat dan mengemasnya dengan menarik. Profesi-profesi seperti jurnalis, public relation, copywriter, dan lain-lain akan banyak dicari.
Di dalam hati ini saya berharap mata masyarakat Indonesia akan lebih terbuka bahwa Fakultas Ilmu Komunikasi bukan sekadar belajar ngomong atau fakultas yang dipilih supaya bisa santai-santai yang penting mendapat gelar sarjana. Ilmu Komunikasi merupakan bidang ilmu yang akan sangat dibutuhkan dalam menghadapi dunia yang semakin modern dan global.
No comments:
Post a Comment